JAKARTA, bantencom--Empat seniman grafis mumpuni,
Chairin Hayati, Haryadi Suadi, Ipong Purnama Sidhi, dan T Sutanto yang
akan memamerkan hasil karya mereka terkini mereka dalam pameran bertajuk
‘Pada Sentuhan Tangan’ di Bentara Budaya Bali (BBB) hingga 9 April 2013
mendatang. Pameran yang dibuka pada Sabtu (30/3) pukul 18.30 Wita
tersebut diresmikan oleh budayawan dan pendiri Museum ARMA, Agung Rai.
Keempat
pegrafis yang karya-karyanya ditampilkan berupa dua dimensi dengan
beragam teknik, etsa, cukil kayu dan kerborundum ini sebelumnya
berpameran pula di Bentara Budaya Jakarta (4 – 13 September 2013).
Masing-masing
perupa ini telah puluhan tahun berkarier dalam bidang seni rupa, dan
menjelajahi ragam medium. “Mengamati kerja seni grafis dari
perupa-perupa yang telah berpengalaman puluhan tahun, bagi saya seperti
mengamati kerja orang-orang yang tidak hendak lekas berpuas diri,” tutur
kurator pameran ini, Heru Hikayat.
Setiap perupa telah punya
sejumlah citra yang khas pada dirinya. Chairin dengan citraan yang
terkesan domestik: tetumbuhan, binatang, dan orang-orang terdekat.
Hariyadi dan T. Sutanto dengan rujukan pada wayang. Ipong dengan
garis-garis tebal serupa sulur-suluran, membuat sosok apapun di karyanya
terkesan sama hidup. Kekhasan ini selalu tertoreh pada plat yang mereka
garap.
Grafis sejatinya memiliki dua entitas sekaligus memadukan
dua kutub berbeda, yakni seni (murni) dan teknologi. “Pameran ini memang
menyajikan karya seni dalam pemahaman seni murni (fine art) bukan seni
grafis yang aplikatif seperti desain grafis, “ lanjut Heru Hikayat yang
juga lulusan Seni Lukis, ITB.
Dalam pengerjaan seni grafis
sedikitnya memerlukan beberapa proses, seperti menyukil papan, menoreh
dan menggurat plat tembaga dengan ujung jarum, mengulas permukaan
tembaga dengan aspal dan mencelupkan merendam dalam asam, atau mengoles
tekstur plastik dengan perekat khusus serta menabur bubuk silika
karbonat, meninggalkan jejak-jejak, tanda-tanda sebagai perpaduan
pengalaman diri yang berhubungan dengan craftsmanship.
“Dengan
semangat kembali ke konvensi seni grafis murni, pameran ini boleh
dipandang sebagai upaya menggelorakan dan mendorong minat para pegrafis
kita sebagaimana yang dilakukan Bentara Budaya melalui kompetisi Trienal
Seni Grafis-nya, “ ujar Putu Aryastawa, staf budaya BBB.
Ipong
Purnama Sidhi lahir di Yogyakarta, 1955. Menyelesaikan studi seni rupa
di Jurusan Seni Lukis, Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI (sekarang Institut
Seni Indonesia ISI) Yogyakarta. Kemudian belajar seni grafis di
Konsthogskolan (Royal University) di Stockholm, Swedia, mengerjakan
litografi, etsa, dry point, karborundum, cukil kayu, dan aquatint. Sejak
1975 sampai sekarang mengikuti pameran bersama ke beberapa kota dan
negara antara lain di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Bali,
Semarang , Jambi, Perancis, dan Swedia. Penghargaan: 1972 – Kompetisi
Seni Lukis Remaja Internasional pada Olimpiade Munchen, Jerman Barat.
Chairin
Hayati, lahir di Tasikmalaya, 11 Maret 1948. Lulus dari ITB Jurusan
Seni Grafis (1973). Pernah berpameran tunggal antara lain : “Jejak
Langkah” Cemara 6 Galeri CafĂ© / (1997) dan “Tentang Wanita” Galeri
Bandung (2001), serta pameran bersama di antaranya: The 17th Asian
International Art Exhibition Drejeon Municipal Museum (2002) CP Open
Bienalle Galeri Nasional Jakarta; The 18th Asian International Art
Exhibition, Hongkong Heritage Museum(2003), Bienalle Jakarta 2006
“Milestone”( 2006), “Dunia Benda” Red Point Gallery di Bandung (2007).
Pernah meraih pengghargaan Karya Mahasiswa Terbaik (1972).
Drs.
Haryadi Suadi, lahir di Cirebon 20 Mei 1939. Lulus FSRD ITB, jurusan
Seni Murni Studio Seni Grafis (1969). Pameran tunggalnya antara lain:
Graphic Art Exhibition (wood Cut), Chase Manhattan, Jakarta (1972),
Pameran Lukisan Kaca Galeri “Lontar” Jakarta (1996), serta pameran
bersama: Pameran “Pelukis Angkatan 1960-n” Taman Ismail Marzuki Jakarta
(2005), Pameran “Biennal Jakarta 2006” Taman Ismail Marzuki Jakarta
(2006), Pameran “AIAE” Selasar Seni Soenaryo, Bandung (2007). Pernah
meraih penghargaan Best woodcut ITB Annual Exhibition, Bandung (1967),
Best woodcut “23rd Sozo Bijutu” Exhibition Tenoji Museum, Osaka, Japan
(1970) dan Best painting (glass painting) Painting Exhibition of the
Jakarta Painting Biennale TIM, Jakarta (1982).
T. Sutanto, lahir
di Klaten, 2 Mei 1941. Sarjana Seni Rupa ITB (Jurusan Seni Grafis);
PRATT Institute New York (Communication Design). Pengalaman Pameran di
dalam dan luar negeri. Pernah menjadi pemenang Biennale Seni Lukis
Indonesia IV (1980); 10 Besar dalam Indonesian Art Awards 1996.
Editor: Jodhi Yudono (KOMPAS.COM)