bantencom - Peletakan batu pertama pembangunan Gelanggang
Olahraga (GOR) di Dusun Ne’e, Desa Sanggaoen, Kecamatan Lobalain,
Kabupaten Rote Ndao yang rencananya dilakukan oleh Menteri Pemuda dan
Olahraga (Menpora) Roy Suryo sebenarnya tidak termasuk dalam daftar
kegiatan Menpora selama di Rote.
Rencana peletakan batu pertama memang sempat diusulkan oleh panitia
lokal, namun Menpora tidak mau melakukan peletakan batu pertama
pembangunan sarana olahraga sebelum semua proses beres. Oleh karena itu,
usulan kegiatan itu didrop dan tidak dimasukkan dalam daftar kegiatan
Menpora selama menghadiri rangkaian kegiatan Merajut Indonesia.
Demikian penjelasan Sekretaris Menpora Yuli Mumpuni Widarso Sabtu (29/6).Menurut Yuli, semua kegiatan yang dihadiri Menpora telah dijadwalkan
dalam daftar rangkaian kegiatan kunjungan. Sedangkan, kunjungan dan
peletakan batu pertama pembangunan GOR sama sekali tidak masuk dalam
rangkaian kegiatan Menpora.
Dia menjelaskan, tim panitia Thobias Tubulau saat ke NTT dan kembali
ke Jakarta menyampaikan aspirasi peletakan batu pertama pembangunan GOR
di Rote Ndao. Namun Menpora dalam arahannya menegaskan bahwa tidak
berkenan melakukan peletakan batu pertama jika ada permasalahan
sebelumnya. Menpora mau meresmikan atau meletakan batu pertama bila
tidak ada masalah korupsi dan klaim kepemilikan lahan dari masyarakat
setempat. Karena itu, pada pembahasan terakhir, aspirasi peletakan batu
pertama pembangunan GOR tidak dimasukkan.
“Memang kita pernah bahas aspirasi peletakan batu pertama, tapi
keinginan itu sudah diaborsi karena Pak Menteri tidak berkenan. Bahkan
saat sudah di-delate pun saya masih sampaikan ke Pak Menteri, tapi sudah
tidak mau kecuali hanya lewat saja,” katanya.
Menpora Roy Suryo, lanjutnya, sejak awal menjabat sudah menegaskan
bahwa ia tidak mau melakukan peletakan batu pertama sarana olahraga
prosesnya belum selesai. Sebab Menpora tidak ingin dalam perjalanan
permasalahan sebelumnya muncul kembali.
Sementara Thobis Tubulau, Asisten Deputi Industri Olahraga Kemenpora
mengakui, aspirasi peletakan batu pertama pembangunan GOR merupakan
keinginan panitia lokal. Namun setelah dibahas di panitia Pusat,
kegiatan itu dibatalkan karena Menpora tidak mau meletakkan batu
pertama. Menpora hanya ingin melakukan pengresmian atau peletakan batu
terakhir setelah semua permasalahan dibereskan.
Sedangkan terkait permasalahan di Nemberala Beach Hotel, Tim Advance
Merajut Indonesia Nanang menjelaskan, Menpora Roy Suryo dan rombongan
tiba di hotel pukul 20.00 Wita. Saat itu Menpora memanggil ajudan dan
menanyakan kenapa semua rombongan tidak menginap di lokasi yang sama.
Meski telah dijelaskan, Menpora tidak terima karena ingin semua menginap
di tempat yang sama.
Nanang juga membantah Menpora membentak wisatawan yang mendekat saat
terjadi keributan karena saat itu tidak ada wisatawan yang mendekat ke
lokasi keributan.
“Itu tidak ada faktanya,” ujarnya.
Dia juga membantah pemberitaan yang mengutip pernyataan Menpora, “Ini
negara saya, kenapa bule yang memenuhi tempat ini”. Menurut Nanang,
yang benar dikatakan Menpora saat itu adalah, “Ini Indonesia, kenapa
kamu lebih prioritaskan pelayanan kepada bule daripada kepada
kementerian”.
Nanang juga mengakui, persoalan di Nemberala Beach Hotel sudah
diklarifikasi dan diselesaikan dengan manajemen hotel. Bahkan, saat
berorasi di hadapan massa yang hadir dalam ceramah, Menpora Roy Suryo
juga sudah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden
tersebut.
Sementara itu, Ketua Panitia Merajut Indonesia Kabupaten Rote Ndao
Jonas Selly menyatakan, keributan di Nemberala Beach Hotel hanya
miscomunication. Menurutnya, Menpora ingin penginapannya tidak
dipisahkan dengan staf karena tidak ingin dibedakan dengan stafnya.(ws)
