jakarta,bantencom- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyesalkan keterlambatan pelaksanaan UN
di 11 provinsi. Wakil Ketua DPR Pramono Anung menyebut manajemen
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) buruk, terlebih
menurutnya, Kemendikbud adalah kementerian paling banyak menyedot
anggaran sebesar 20 persen dari APBN.
"Ini persoalannya lebih
serius dari pada sekadar boxnya belum masuk, atau apapunlah. Ini
menunjukkan manajemen yang buruk dari Kementerian Pendidikan," kata
Pramono di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (15/4).
Selain
itu, lanjut Pramono, kegagalan Kementerian yang dipimpin M Nuh
menyelenggarakan UN serentak, merupakan cermin tingkatan usaha
pemerintah mempersiapkan masa depan anak bangsa.
Pada kasus ini, DPR mendesak M Nuh untuk bertanggungjawab. Pramono menilai kelambatan tersebut pasti ada sesuatu yang salah.
"Ini
kan bukan barang baru. Kita tahu polemik ujian ini 3 atau 4 tahun lalu
ada yang pro kontra, dan ini semakin menunjukkan ketidaksiapan, ketidak
sungguhan sebuah kementerian yang secara konstitusi memberikan 20 persen
untuk budgetnya," lanjut Pramono.
Karena itu, DPR mendesak harus
ada evaluasi di tubuh Kemendikbud. Tak peduli alasan yang diutarakan,
apakah masalah bocornya soal ujian, keterlambatan memasukkan box, atau
pengiriman.
"Ini kan UN, dan ini cerminan dari sebuah bangsa
bagaimana sungguh-sungguh untuk mempersiapkan anak didik kita di
kemudian hari. Kalau alasannya remeh temeh, tak masuk akal pikiran sehat
saya," tegas Pramono.<MK>
