Palembang,bantencom- Karena berbagai kedala untuk membangun Musi 3,akhirnya secara diam-diam Pemprov sumsel mengubah rencana
untuk menghapus kemacetan di Kota Palembang Khususnya,provinsi Sumsel Umumnya akhirnya di buatlah rencana pembangunan terowngan bawah tanah(Tunnel) .
tunnel dianggap alternatif yang cocok untuk memecah kemacetan lalu lintas Seberang Ulu dan Ilir serta Jembatan Ampera. Apalagi, desain Jembatan Musi 3 yang sudah dibuat masih dipersoalkan ketinggiannya karena dianggap menyulitkan kapal untuk merapat ke kawasan Boombaru.
“Jika dilihat dari ketinggiannya (Musi 3), memang sulit diwujudkan. Jadi untuk jembatan ini, akan cenderung diubah menjadi tunnel,” ucap Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.
Sebelumnya, Kepala BBPJN Wilayah III, Bastian Sihombing mengatakan, perlu waktu panjang untuk melakukan pengkajian pembangunan Jembatan Musi 3. Apalagi, biaya yang harus dikeluarkan tergolong cukup besar meskipun sumber dananya sekelas APBN.
untuk menghapus kemacetan di Kota Palembang Khususnya,provinsi Sumsel Umumnya akhirnya di buatlah rencana pembangunan terowngan bawah tanah(Tunnel) .
tunnel dianggap alternatif yang cocok untuk memecah kemacetan lalu lintas Seberang Ulu dan Ilir serta Jembatan Ampera. Apalagi, desain Jembatan Musi 3 yang sudah dibuat masih dipersoalkan ketinggiannya karena dianggap menyulitkan kapal untuk merapat ke kawasan Boombaru.
“Jika dilihat dari ketinggiannya (Musi 3), memang sulit diwujudkan. Jadi untuk jembatan ini, akan cenderung diubah menjadi tunnel,” ucap Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.
Diakui
Rizal (Plt Kepala Dinas
Pekerjaan Umum Bina Marga), wacana itu sudah pernah dibicarakan bersama dengan pihak
terkait, yakni Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah
III. Namun, ia belum dapat memastikan apakah wacana ini akan menjadi
pilihan akhir.
“Masih belum begitu fix. Bisa saja tetap
dengan membangun Jembatan Musi 3,” ungkap pria yang juga Kepala Dinas
PU Cipta Karya (PU CK) Sumsel ini. Jika kepastian pembangunan tunnel
sudah fix, maka lokasinya akan tetap berada pada titik awal yang semula
akan dibangun Jembatan Musi 3.
Banyak faktor yang melandasi lahirnya
wacana ini. Pertama, soal biaya. Pembangunan tunnel dianggap lebih
“bersahabat” ketimbang membangun Musi 3 dengan desain yang telah
disiapkan. Sumsel juga tidak perlu bingung mencari investastor untuk
membangun terowongan bawah tanah ini.
“Waktu pengerjaan konstruksi tunnel juga
tergolong lebih singkat dibanding membangun Jembatan Musi 3,” jelas
Rizal. Ditambahkan Sekretaris Dinas PU BM Sumsel, Basyarudin Akhmad,
pembangunan tunnel merupakan solusi terbaik untuk mengatasi kendala
Jembatan Musi 3 yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda dapat
direalisasikan.
“Tunnel dan Jembatan Musi 3 ada
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi untuk tunnel, itu saya rasa
lebih tepat. Selain biayanya lebih murah, dengan membangun tunnel, maka
permasalahan kapal besar yang harus merapat ke Boombaru terselesaikan,”
bebernya.
Pasalnya, dalam detail engineering
design (DED) yang telah disusun, Jembatan Musi 3 memiliki ketinggian 52
meter. Namun, Pelindo menilai ketinggian ini belum memadai. Dibutuhkan
tinggi sekitar 70 meter agar kapal-kapal besar dapat melalui alur
pelayaran dan merapat ke dermaga bongkar muat.
Sebelumnya, Kepala BBPJN Wilayah III, Bastian Sihombing mengatakan, perlu waktu panjang untuk melakukan pengkajian pembangunan Jembatan Musi 3. Apalagi, biaya yang harus dikeluarkan tergolong cukup besar meskipun sumber dananya sekelas APBN.
“Jika tetap membangun Jembatan Musi 3,
maka diperlukan dana sekitar Rp6 triliun. Saat ini kami masih proses
pengkajian untuk pembangunannya. Besarnya biaya yang dibutuhkan
dikarenakan ketinggian Musi 3 di atas 50 meter agar dapat dilalui kapal
besar,” tukasnya kepada bantencom .<BJ bantencom>