Menurut pria 58 tahun itu, berpuasa di di Indonesia lebih mudah. Ia bisa mengikuti istri, keluarga, dan masyarakat sekitar yang juga berpuasa. Apalagi di Indonesia, Arturo melanjutkan, kebebasan untuk tidak berpuasa jauh lebih longgar ketimbang di negara muslim lainnya. "Kalau ingin makan kala Ramadan, ya makan, ada restoran yang buka," kata ayah dua anak ini.
Cerulli menjadi mualaf sejak seperempat abad lalu. Dan pengalamannya berpuasa di Indonesia jauh berbeda ketika ia bertugas di Kuwait. "Saya masih ingat, hari pertama kerja di Kuwait itu hari pertama puasa," kata dia. Dan tanpa persiapan, Cerulli dan keluarganya tiba di Kuwait menjelang petang. "Kami baru saja tiba dari Italia, belum makan siang sama sekali dan tidak ada orang yang menangani kami atau memberikan kami makan sampai waktu berbuka," ujar dia.
Sebagai pendatang, Cerulli tak tahu ke mana harus mencari makanan untuk putra dan putrinya. Ia bahkan sempat kesal dengan perusahaan yang merekrutnya. "Masak datang tanpa sambutan dan dibiarkan saja, hari pertamaku itu sangat aneh," kata sarjana nuklir ini.
Tapi kemudian, ia baru menyadari bahwa tak ada toko yang buka selama Ramadan. Bahkan di waktu-waktu khusus, tak ada kegiatan sama sekali di Kuwait. "Kalau ketahuan makan saat puasa di sana, kamu bisa dipenjara," ujar Cerulli.(Bc4)
Sent From bantencom civil journalism