hanya vidal yang bermain lugas untuk tim juventus.karena semua pemain juventus jauh dari top performnya.
Bianconeri hanya mampu membuat peluang emas melalui sundulan leonardo bonnuci bola sundulannya tipis melewati tiang gawang,yang di jaga Manuel Neuer.
bertolak belakang dengan nama besar Juventus sebagai Tim besar.
Pelatih Antonio Conte tidak banyak melakukan perubahan dalam starting line-up,sementara duet straiker Matri dan Quagliarella di pertahankan.
Namun, Salah satu faktor gagalnya Juventus dalam membangun serangan dan memasuki area pertahanan Bayern adalah karena adanya gap terlampau besar antara trio lini tengah Pirlo-Vidal-Marchisio dan dua striker di depan Matri-Quagliarella.
Hal ini dikarenakan kedua striker acap kali bermain sejajar, tepat berada di depan duet center-back Bayern, Van Buyten dan Dante. Keduanya pun jarang menjemput bola ke tengah lapangan atau bergerak melebar. Ini berbeda dengan saat Juventus bertemu dengan Inter, yaitu kala Quagliarella lebih sering bergerak ke samping untuk membuka ruang pertahanan lawan.
Gol cepat dari Alaba sempat membuat Juventus bereaksi dan berusaha untuk merebut bola. Namun, rapatnya antarlini Bayern serta pressing-pressing ketat yang dilakukan baik lini tengah mau lini depan membuat permainan Juventus tidak berkembang.
Dalam 16 menit pertama, yaitu saat Toni Kroos belum mengalami cedera, Pirlo pun tidak diberikan ruang sama sekali oleh pemain ini. Tanpa Pirlo, pemain Juventus lainnya kemudian seolah dipaksa untuk mengalirkan bola dengan cepat dan terburu-buru sehingga mudah untuk diintersepsi atau direbut oleh para pemain Bayern. Karena itu Juventus jarang sekali bisa memasuki area pertahanan Bayern.
Serangan juventus monoton
Selain mampu menahan Juventus untuk bertahan, Bayern juga mampu menjaga agar aliran bola Juventus tidak mengarah ke area tengah lapangan, yang merupakan area favorit Juventus dalam menyerang.
Pirlo bermain buruk (hanya mampu melakukan 37 kali passing), tugas untuk mengalirkan bola jatuh ke pundak Barzagli, Chiellini, dan Bonucci. Namun, dengan Ribery yang terus memberikan pressing pada Barzagli dan Mandzukic pada Bonucci-Chiellini, ketiga bek Juventus pun lebih sering memberikan umpan lambung ke arah sayap lapangan untuk mengalirkan bola.
Tapi hingga akhir permainan, Juventus seolah memaksa untuk membangun serangan lewat belakang. Akibatnya Bayern acap kali mendapatkan peluang hasil dari bola yang terebut berkat pressing-pressing di ruang antara trio lini tengah dan trio lini belakang Juventus.
Peran pelatih
Oleh Jupp Heyckness, Mandzukic ditempatkan berada di antara Bonucci dan Chiellini. Pemain ini memiliki peran yang berbeda saat Bayern menyerang maupun bertahan.
Saat Juventus memegang bola, dengan pressing-pressing-nya Mandzukic berhasil meminimalisir peran Bonucci dalam mengalirkan bola. Ia tak memberikan ruang bagi lawannya itu untuk bergerak atau memberikan waktu untuk Bonucci berpikir. Tak heran, bek yang biasanya memiliki persentase passing akurat yang tinggi ini hanya mampu membuat 75% passing sukses. Selain itu, dengan kemampuan aerial duel-nya, Mandzukic pun kerap merepotkan Chiellini dalam mengejar bola-bola lepas di udara.
Sementara saat menyerang, Mandzukic acap kali bergerak ke arah kanan sehingga menarik Chiellini menjauh dari Bonucci. Apalagi Claudio Marchisio bermain di bawah performa terbaiknya dan kurang memberikan proteksi baik baik Chiellini maupun Peluso. Duet Robben-Mandzukic kemudian membuka ruang untuk Mueller masuk ke dalam kotak penalti.
Substitusi yang Terlambat
Masuknya Sebastian Giovinco dan Mirko Vucinic mampu mengubah permainan Juventus. Vucinic bermain lebih dalam dan sering menjemput bola dari tengah. Sementara Giovinco yang ditempatkan lebih di depan, mampu memberikan pressing pada Van Buyten dan Dante. Namun substitusi ini datang terlambat, karena Bayern telah menambah keunggulan terlebih dahulu.
Kesimpulan
Dua striker yang bermain sejajar tanpa memberikan pressing apapun pada pertahanan lawan, serta gap yang terlampau jauh antarlini serangan membuat permainan Juventus tak berkembang. Sementara Bayern yang terorganisir dengan jarak antarlini rapat, melakukan pressing ketat, menunjukkan superioritasnya dalam menguasai pertandingan.
Jika pada pertemuan selanjutnya juventus tidak melakukan perubahan maka akan sulit bagi Juventus untuk bisa melaju ke babak selanjutnya.
untuk bisa lolos ke babak semifinal juventus harus menang dengan memasukan 3 gol tanpa balas.
Ridwan (bantencom)