JAKARTA- bantencom - Adanya anomali suhu muka air laut yang
menghangat di perairan Indonesia menyebabkan pasokan uap air melimpah sehingga
curah hujan berintensitas tinggi terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini
menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung. BMKG menyatakan bahwa kondisi
demikian dapat terjadi hingga pertengahan Mei mendatang.
Selama tahun 2013
ini, data sementara kejadian bencana terdapat 356 bencana. Dampak dari bencana
297 orang meninggal, 412.391 jiwa mengungsi, 27.762 rumah rusak dan ratusan
fasilitas umum yang rusak.
Dari total kejadian
tersebut, terjadi 128 puting beliung yang menimbulkan 91 orang meninggal. 1.667
mengungsi, dan 9.912 rumah rusak. Banjir terjadi 122 kejadian yang menimbulkan
korban 93 orang meninggal 355.248 mengungsi, dan 17.920 rumah rusak. Sedangkan
longsor terdapat 84 kejadian dengan 128 orang meninggal, 42.762 jiwa mengungsi,
dan 685 rumah rusak. Kerugian ekonomi tentunya ratusan milyar.
Ancaman bencana
hidrometerologi yaitu bencana terkait dengan cuaca seperti banjir, longsor,
puting beliung, gelombang pasang dan kekeringan akan makin meningkat. Perubahan
iklim global telah nyata berpengaruh berubahnya watak hujan dan cuaca.
Kerentanan di masyarakat juga makin meningkat. Jutaan p
enduduk Indonesia
bertempat tinggal di daerah-daerah rawan tinggi dari bencana hidrometeorologi.
Ada 124 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di daerah bahaya sedang hingga
tinggi dari longsor. Ada 61 juta jiwa penduduk hidup di daerah bahaya sedang
hingga tinggi dari banjir.
Bencana bukan hanya
sebuah fenomena alam. Bencana tidak dapat direduksi ke sekedar soal alam itu
sendiri, kesiapan teknologi, atau hal teknis lainnya. Bencana memiliki dampak
sosial yang kompleks. Ketika sebuah bencana terjadi, tatanan sosial yang normal
terganggu. Untuk itu penanggulangan bencana hendaknya menjadi prioritas
pembangunan di semua sektor.